OTOCUANNEWS.ID – Arus balik Lebaran selalu punya cerita. Jika dulu identik dengan antrean panjang di SPBU, kini ada pemandangan baru yang mulai jamak ditemui: deretan mobil listrik yang sedang mengisi daya di rest area
Bagi sebagian orang, ini masih terlihat seperti sesuatu yang “berisiko”. Kekhawatiran akan kehabisan baterai di tengah jalan masih membayangi. Namun faktanya, infrastruktur kendaraan listrik di jalur mudik—terutama Tol Trans Jawa—sudah berkembang cukup pesat.
Bahkan untuk pengguna mobil listrik asal China seperti BYD, Wuling, Aion, hingga Chery, perjalanan arus balik kini bukan lagi soal berani atau tidak, melainkan soal strategi.
Rest Area
Jika SPBU adalah jantung perjalanan mobil konvensional, maka SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) adalah “napas” bagi kendaraan listrik.
Di jalur Trans Jawa arah Jakarta, SPKLU kini tersebar di banyak rest area strategis. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat, pengguna mobil listrik bisa menemukan titik pengisian daya dalam jarak yang relatif aman.
Beberapa titik penting di antaranya:
KM 725 hingga KM 626 (wilayah Jawa Timur)
KM 519, KM 487, hingga KM 429 (Jawa Tengah)
KM 389 dan KM 379 (Batang, jalur padat dengan fast charging)
KM 207 hingga KM 102 (Cipali)
KM 88 hingga KM 57 (mendekati Jakarta)
Kehadiran titik-titik ini membuat perjalanan panjang kini bisa direncanakan dengan lebih matang, tanpa harus bergantung pada satu lokasi saja.
Titik Ramai, Titik Kritis
Meski jumlah SPKLU terus bertambah, ada beberapa lokasi yang hampir selalu menjadi titik padat saat arus balik.
Nama-nama seperti KM 519, KM 389, KM 207, hingga KM 57 kerap menjadi “magnet” bagi pengguna kendaraan listrik. Letaknya strategis, fasilitas lengkap, dan mudah diakses.
Namun di saat yang sama, titik-titik ini juga berpotensi menghadirkan antrean panjang.
Di sinilah perbedaan antara pengguna EV berpengalaman dan pemula terlihat. Yang satu akan menghindari titik ramai, sementara yang lain justru terjebak di sana.
Mobil Listrik China, Sudah Siap Jalan Jauh
Menariknya, sebagian besar mobil listrik asal China yang kini beredar di Indonesia sudah menggunakan standar charging CCS2. Artinya, mereka kompatibel dengan SPKLU PLN yang tersedia di rest area.
Model seperti BYD Seal, Wuling Cloud EV, Aion Y Plus, hingga Chery Omoda E5 bisa langsung mengisi daya tanpa perlu adaptor tambahan.
Bahkan, dengan kemampuan fast charging yang kini semakin umum, pengisian dari 30 hingga 80 persen bisa dilakukan dalam waktu sekitar 30 menit.
Yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa mobil listrik tidak cocok untuk perjalanan jauh. Padahal, dengan jarak tempuh rata-rata 400 hingga 500 kilometer, sebagian besar EV modern sudah lebih dari cukup untuk perjalanan antar kota.
Kuncinya bukan pada jarak, melainkan pada bagaimana pengemudi mengatur energi. Mengisi daya saat baterai masih di kisaran 30–40 persen, memilih lokasi charging alternatif, hingga tidak memaksakan pengisian hingga 100 persen adalah bagian dari strategi yang membuat perjalanan lebih efisien.
Dalam konteks ini, berkendara mobil listrik lebih menyerupai perencanaan perjalanan, bukan sekadar mengemudi. ***
