OTOCUANNEWS.ID – Di tengah harga bahan bakar minyak (BBM) yang relatif stabil, Chery justru menyoroti potensi efisiensi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) untuk penggunaan harian. Melalui lini produknya seperti Chery Omoda E5 dan J6T, pabrikan asal China ini mengklaim biaya mobilitas harian bisa ditekan hingga di bawah Rp10.000.
Langkah ini menjadi respons terhadap kebutuhan masyarakat yang tetap harus mengelola pengeluaran rutin, khususnya untuk biaya transportasi sehari-hari.
Chery menyebutkan, dengan kemampuan jarak tempuh hingga 430 kilometer berdasarkan standar WLTP, kendaraan listriknya dapat digunakan untuk aktivitas harian tanpa ketergantungan pada BBM. Untuk penggunaan dalam kota, pengisian daya bahkan cukup dilakukan setiap tiga hari sekali.
Berdasarkan simulasi penggunaan sejauh 1.200 kilometer per bulan, konsumsi energi kendaraan listrik Chery tercatat sekitar 171 kWh. Dengan asumsi tarif listrik saat ini, biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp291.348 per bulan, atau kurang dari Rp10.000 per hari.
Jika dibandingkan dengan mobil konvensional, angka ini jauh lebih rendah. Untuk jarak tempuh yang sama, biaya bahan bakar kendaraan berbasis mesin pembakaran internal bisa mencapai sekitar Rp1,1 juta per bulan. Artinya, pengguna berpotensi menghemat lebih dari 70 persen biaya operasional.
Selain biaya operasional yang lebih rendah, kendaraan listrik juga menawarkan karakter berkendara yang berbeda dibandingkan mobil konvensional. Motor listrik memberikan akselerasi instan, minim getaran, serta lebih senyap, sehingga meningkatkan kenyamanan selama perjalanan.
Chery menilai pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan konsumen modern yang tidak hanya mencari kendaraan fungsional, tetapi juga efisien dan ramah lingkungan. Melalui program Chery Family Care, pabrikan ini berupaya menghadirkan solusi mobilitas yang menyeluruh, mulai dari efisiensi biaya hingga kenyamanan penggunaan.
Dengan strategi tersebut, Chery berharap kendaraan listrik dapat menjadi pilihan utama untuk mobilitas harian keluarga Indonesia, terutama di tengah tuntutan efisiensi dan keberlanjutan yang semakin tinggi. ***
